Hadits Tentang 9 dari 10 Pintu Rizki

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِزْقِ فِي التِّجَارَةِ

Sembilan dari sepuluh pintu rizki ada pada perdagangan
Hadits ini diriwayatkan oleh:
-          Imam As Suyuthi dalam Al Jami’ Ash Shaghir, 1/130, dari Nu’aim bin Abdurrahman dan Jabir Ath Tha’i secara mursal.
-          Imam Ibnul Atsir dalam An Nihayah fi Gharibil Hadits, 2/341
-          Imam Alauddin Al muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal, No. 9342, beliau mengatakan bahwa hadits ini mursal.
-          Imam Abu Ubaid dalam Al Gharib, 2/52, dengan sanad: Hasyim, Daud bin Abi Hindi, Nu’aim bin Abdurrahman, katanya: telah sampai kepadaku bahwa NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (lalu di sebutkan)
-          Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam Al Mathalib Al ‘Aliyah No. 1478, dengan sanad: Khalid bin Abdullah, Daud bin Abi Hindi, Nu’aim bin Abdurrahman, katanya: telah sampai kepadaku bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (lalu di sebutkan)
-          Imam Ad Dauri dalam Tarikh Ibnu Ma’in, 4/49. Ad Dauri berkata: “Aku mendengar Yahya berkata: bahwasanya dijadikan sembilan dari sepuluh pintu rizki ada pada perdagangan.”
-          Imam Al Bushiri dalam Al Ittihaf No. 2730, dengan sanad: Khalid bin Abdullah, Daud bin Abi Hindi, Nu’aim bin Abdurrahman, katanya: telah sampai kepadaku bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (lalu di sebutkan)
Imam As Suyuthi menghasankan hadits ini. (Al Jami’ Ash Shaghir, 1/130)
Namun penghasanan tersebut telah dikritik imam lainnya. Imam Al Bushiri Rahimahullah berkata: “Sanad hadits ini dhaif, karena Nu’aim bin Abdirrahman seorang yang majhul (tidak dikenal).”  (Al Itthaf Al Khairah, 3/275, No. 2730).
Imam Al ‘Iraqi Rahimahullah berkata:
رواه إبراهيم الحربي في غريب الحديث من حديث نعيم بن عبد الرحمن ” تسعة أعشار الرزق في التجارة ” ورجاله ثقات ، ونعيم هذا قال فيه ابن منده : ذكر في الصحابة ولا يصح . وقال أبو حاتم الرازي وابن حبان : إنه تابعي فالحديث مرسل
Diriwayatkan oleh Ibrahim Al Harbi dalam Gharibil Hadits, dari Hadits Nu’aim bin Abdurrahman, dan perawinya terpercaya, ada pun Nu’aim ini berkata Ibnu Mandah:  Disebutkan sebagai sahabat nabi, itu tidak benar. Berkata Abu Hatim Ar Razi dan Ibnu Hibban: “Dia adalah tabi’i, maka hadits ini mursal.” (Takhrij Ahadits Al Ihya, 4/76).
Keterangan tentang Nu’aim bin Abdurrahman Al Azdi Al Bashri  bahwa dia bukan seorang sahabat nabi, tetapi generasi tabi’in, dan hadits darinya adalah mursal, telah disebutkan dalam beberapa kitab. (Imam Ibnul Atsir, Usadul Ghabah, Hal. 1072. Al Hafizh Ibnu Hajar, Al Ishabah fi Tamyiz Ash Shahabah, 6/510. Imam Ibnu Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 8/461. Imam Abu Zur’ah Al ‘Iraqi, Tuhfatut Tahshil fi Dzikri Ruwatil Marasil, Hal. 328. Imam Al Munawi,Faidhul Qadir, 3/322)
 
Hadits mursal merupakan jenis dari hadits dhaif, karena  munqathi’, yakni terputus sanadnya, yaitu seorang tabi’in meriwayatkan ucapan ini langsung ke nabi, tanpa melalui sahabat nabi.
Jadi, tentang hadits ini mayoritas ulama mengatakan dhaif sebagaimana dikatakan oleh Imam Al ‘Iraqi, Imam Al Bushiri, juga Syaikh Al Albani (Dhaiful Jami’ No. 2434, As Silsilah Adh DhaifahNo. 3402). Kedhaifannya lebih kuat karena dua faktor. Pertama, kepribadian Nu’aim bin Abdurrahman yang tidak diketahui. Kedua, dia meriwayatkan hadits ini secara mursal, tidak melalui sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan kemursalan ini masyhur.
Namun, walau pun hadits ini dhaif, bisa jadi secara makna adalah benar. Pada kenyataannya berdagang merupakan induk semua mata pencaharian. Baik itu petani, nelayan, industri,  guru, dokter, wartawan, dan lainnya, tidak akan lepas dari aktifitas tijarah (perniagaan), pasti semua akan berhubungan dengan jual-beli, baik secara langsung atau tidak.
Imam Al Munawi Rahimahullah berkata:
وهذا لا يقتضي أفضلية التجارة على الصناعة والزراعة لأنه إنما يدل على أن الرزق في التجارة أكثر ولا تعارض بين الأكثرية والأفضلية
Ini tidak menunjukkan keutamaan berdagang di atas industri dan pertanian, ini hanya menunjukkan bahwa rizki dari perdagangan lebih banyak, dan tidak ada pertentangan antara jumlahnya yang lebih banyak dan lebih keutamaannya. (Faidhul Qadir, 3/322)
Oleh: Farid Nu’man Hasan, Lc
Sumber: Islamedia